Ada suatu saat dimana segala sesuatunya menjadi biasa dari kehidupan di sekitar kita. Entah itu semburat matahari yang selalu muncul di ambang fajar, suara derik ekor cicak yang merayapi langit-langit kamar, hembusan angin panas di suatu sore bulan Agustus, laju lokomotif yang menghela gerbong secara perlahan sekuensial ataupun desah nafas gelisah ketika terbangun di sepertiga malam. Deret ukur waktu yang berlalu seolah hanya merupakan nyanyi sunyi seorang bisu, yang tidak terdengar dan tidak diperhatikan, waktu yang lewat tidak lebih hanya menjadi penggenap di simpul peristiwa yang terjadi seiring lelakon anak manusia. Maka tersebutlah 4 tahun silam di waktu yang sama dengan hari ini, 8 anak-anak peradaban di sudut masjid mentahbiskan komunitas suci blogger semarang raya. Tanpa hiruk pikuk pesta, atau konfeti yang dilempar ke udara, semuanya berlangsung begitu saja, bermula dari milis dan menjadi loenpia.
Konon Yang Mulia Hegel pernah berkata, kemajuan masyarakat terjadi karena semata-mata kemajuan pikiran, dan Hegel seolah mendapatkan pembuktiannya di loenpia, meski masih jauh dari detonator perubahan ala foco, tapi loenpia membuktikan dirinya tidak hanya sekedar komunitas maya dengan obrolan berbusa-busa. Di rentang empat tahun usia, tersebutlah beberapa titik pembuktian itu, bermula dari bakti sosial yang sporadis bermutasi menjadi force loenpia yang mulai tertata. Meski jangan berharap terlalu tinggi, karena toh biar bagaimanapun loenpia tetap loenpia, komunitas makan-makan berkedok blogger abal-abal, tetap ada balasan ngopril diantara diskusi serius di milis, tetap ada gojeg kere diantara kerut kening seorang pembuka tema serius, tetap ada nada sinis di debat kusir tentang hal yang kadang tak penting, tetap ada absen makan-makan yang selalu penuh, tetap ada jeruk bosok baru yang mengisi borang perkenalan berharap loenpia adalah biro jodoh, dan tetap (akan) ada ide besar yang hanya berakhir di kotak surat.
Selamat berpesta, Loenpia. Ngeri thok memang nda! Happy 4th Anniversary Loenpia! Kampaai, Loenpia Banzaii!!!

Agak terlambat memang bagi saya untuk menyadari kalau hari ini adalah hari bloger nasional, hari yang setahun lalu dideklarasikan oleh Pak Menkominfo sebagai Hablona (Hari Blogger Nasional), hari yang (konon) sakral bagi sebagian besar jagad blogosphere Indonesia.
Begitulah, sebuah perayaan atas kegembiraan yang menyenangkan membawa euforia pada hari ini, singkat namun berkesan, persis seperti album Clap Your Hands Say Yeah yang menjadi soundtrack hari ini. Saya sendiri tidak punya kewenangan intelektual untuk mendefinisikan grup ini beraliran apa, hanya semata yang saya tahu bahwa aroma musiknya mengingatkan saya pada The Strokes di album Room on Fire. Sebuah komposisi yang jenius dan brilian, tribute terbesar pada sang vokalis yang membawakan seluruh lirik dalam album ini ke dalam sebuah kebebasan yang ekspresif. Jujur saja, mendengarkan Alec Ounsworth bernyanyi dalam The Skin on My Yellow Country Teeth seperti mendengar tetangga kamar saya bernyanyi di kamar mandi setiap pagi, namun anehnya justru malah harmoni itu terbangun disana. Intro yang kuat membuat lagu ini adalah first-crush saya di album ini setelah dibuka dengan cukup aneh oleh humming tidak karuan dalam Clap Your Hands!

Dikomentarkan