Sembilan belas minggu ini…

Apa yang bisa anda lakukan dalam sembilan belas minggu? Keliling dunia? Jika berpijak pada apa yang Jules Verne lakukan di novelnya maka anda akan berputar 1,6 kali mengelilingi Bumi. Atau anda berminat untuk tidur dengan nyenyak tanpa gangguan pekerjaan atau deadline yang menyebalkan? Kalau itu bisa silahkan saja, saya juga berminat untuk itu. Hehe… :D

Minggu ke sembilan belas alias sembilan belas minggu, tidak terasa memang hitungan mundur untuk menjadi seorang ayah semakin berkurang. Trimester pertama yang dilalui dengan penuh emesis sekarang telah menjadi kisah yang diceritakan dengan tawa malam sebelum tidur, maturnuwun Gusti untuk roti tawar kupas yang sekarang menjadi masa lalu sama halnya dengan berkilo-kilo rambutan yang jadi menu setiap hari. Duphaston sisa trimester pertama juga masih teronggok tanpa pernah terminum bersanding dengan nulacta yang ditebus untuk persediaan sebulan namun hanya pernah sekali diminum.

Trimester pertama yang penuh cerita. Cerita tentang newlyweed-couple yang masih tergagap dengan aroma bulan madu. Ah, Gusti Allah memang penuh kejutan. Dan babak pertama gravida ini sekarang berlanjut ke trimester kedua, saat cairan amnion mulai ditelan dan saat dimana seseorang akan berkata “ooh, it’s a boy” atau “ooh, it’s a girl”. Harapan saya? Yang boy gak papa, yang girl juga akan saya syukuri, wong namanya juga amanah.

Eniwe, selamat 20 minggu ‘Jo! :)

Hey Adam, buang saja Top Brand itu!

Dan tertegunlah saya ketika membuka web maskapai penerbangan yang sedang jadi berita itu. Berita basi beberapa hari yang lalu dan kronologis jatuhnya AdamAir di Majene membuat segalanya seolah berkontradiksi dengan apa yang mereka (masih) tampilkan di web.

Maskapai dengan Top Brand 2008? Official Carrier PON XVII Tahun 2008? Lupakan saja, sekarang semuanya tinggal masa lalu. Lalu darimana Top Brand itu? Bagaimana nasib PON XVII yang disponsorinya? Peduli setan, semuanya hanya akan jadi sepotong sejarah pahit dipampang dengan judul-judul besar, “Potret Buram Industri Penerbangan Indonesia”. Ah, bangsa yang penuh ironi.

*yangprihatinpernahkemanadotapitidakdenganadamair*

Tahu-tahu Tahun Baru

Dan berakhirlah Tahun 2007 kemarin, hari-hari babi api yang berganti menjadi hari-hari tikus tanah. Hari-hari yang sudah menyita jatah umur saya di muka bumi. Lebih dari tiga-ratus-enam-puluh-lima malam yang akan menjadi legenda. Tahun dimana saya menyempurnakan dien saya.

Sejumlah harapan ditebar, semoga yang terjadi setahun belakangan akan membawa kebaikan bagi bumi yang sudah hiruk pikuk ini. Tahun yang penuh bencana seperti di 2006 dan 2007 silam semoga tidak terulang lagi dan membuat manusia semakin bijak dengan lingkungannya, semoga kedamaian tercipta di bumi. Semoga konferensi yang kemarin bakal menuai hasilnya di tahun tikus ini.

Dimulailah kalender baru di tahun 2008, tahunnya sepakbola (seperti kata bos MNC di iklan mereka, :P ) yang tentunya juga masih diselingi oleh tatapan sinis bapak tua penjual mainan keliling yang saya temui tentang harapan akan kesejahteraan di tahun baru ini. Apatis? Mungkin saja.

New Year resolution
saya? Sejumlah doa pada diri saya dan keluarga tentunya. Happy New Year semuanya!

Tanda-tanda? Wohoo…

Apakah yang paling membahagiakan bagi seorang laki-laki? Sedan baru? Deposito satu milyar? Promosi jabatan? Liburan ke Thailand? Atau dua hari libur yang tenang dan damai sehingga bisa meneruskan tidur dengan nyaman, aman dan bahagia? (Yang terakhir itu saya banget :D ). Tiap orang punya pilihannya demikian juga saya yang sedang mengalami fase-fase kebahagiaan tersebut. Dimulai dari tanggal bersejarah sepanjang bulan November itu, dan berlanjut di hari Selasa kemarin.
Selasa pagi itu nyonya saya mengeluh mual yang menghebat (setelah sebelumnya di hari minggu mengeluh soal “cuma” masuk angin) dan tunggu punya tunggu, siang harinya nausea-nya tambah parah, ditambah vomiting (padahal paginya masih berargumen kalau semata “cuma” masuk angin, he he…). Masih di sore yang sama sisa jeruk lokam yang asemnya minta ampun kemarin juga sudah tandas tanpa sisa habis diserbu.

“Wah, selamat ya ‘djeng….” kata saya pada nyonya yang langsung dibalas dengan nyolot. :D

Malamnya sepulang kantor masih mengeluh hal yang sama, ya wis, daripada penasaran dipakailah tes yang legendaris itu. Dan hasilnya? Hehehe…

Halaman Berikutnya »