Judul diatas itu artinya jengkel dalam bahasa indonesia, lha gimana ndak? Turun ke masjid tadi sekalian buka bersama itu niatnya ya cuma buat buka, eh lha kok pake acara kelangan (red: kehilangan; jawa) sandal segala…
Mending kalau sandal yang saya pakai itu sandal keren dan mahal seharga ratusan ribu, lha wong ya cuma sandal jepit, bekas pakai, warnanya nggak match antara kiri dan kanannya, tapi kok ya bisa hilang juga…satu yang bikin lebih mangkel itu kejadiannya persis di depan mata kepala saya sendiri, pas keluar dari pintu, lha kok ada seorang bapak yang makai sandal saya, mau negur kok ndak enak, tapi masak nyeker…
Bodohnya saya, saya ikhlaskan saja sandal saya tadi, wis ndak papa, mungkin si bapak sebelumnya juga kehilangan sandal terus lihat sandal jelek yang “terlihat-seperti-bukan-punya-siapa-siapa” lalu diambil. Yang jelas, mungkin saya juga dapat piweling (red: peringatan; jawa) dari Gusti kalau nyolong walaupun kecil itu ndak baik, lho kok? Lha kemarinnya saya juga nukerkan sandal jelek saya itu kok, dulu yang kiri warnanya coklat, sedangkan yang kanan warnanya biru, pas di tempat wudlu kok ada sandal jelek “yang-terlihat-seperti-bukan-punya-siapa-siapa” warnanya kebetulan biru, pas…walaupun birunya beda gradasi, dia lebih gelap, tapi ndak papa yang penting masih keliatan biru, ya sudah, yang coklat saya tuker…tapi kok malah hari berikutnya malah diambil orang. Apes.
Moral of story: nyeker itu sehat!


0 Tanggapan ke “Mangkel”