Seperti ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, demikian juga tentunya dengan orang-orang disekitar saya yang bermetamorfosis menjadi “sesuatu” demi masa depan mereka masing-masing. Cita-cita demikian waktu kecil kita menyebutnya, mimpi, kata teman-teman sepermainan kita dulu.
Seorang kawan bercita-cita menjadi seorang dokter, gara-gara ingin punya jubah putih bersih yang dipakai Pak Dokter tetangganya, kawan yang lain bercita-cita menjadi seorang guru gara-gara kagum dengan Ibu guru wali kelas kami di TK dulu, kawan satunya lagi malah bercita-cita menjadi sopir bus, gara-gara nggak ingin seperti ayahnya seorang kernet bus yang cuma jadi asisten sopir bus. Saya sendiri bercita-cita menjadi seorang ustadz, gara-gara pesona si Da`i Sejuta Umat, Zainuddin MZ.
Lalu mulailah kita baik secara sadar maupun tidak sadar merintis jalan untuk meraih cita-cita itu, mendirikan tangga maha tinggi untuk mencapai cita-cita yang tergantung di awang-awang langit lapis ke lima, atau cukup membikin bangku kayu untuk meraih impian yang digantung di pohon belimbing depan rumah. Mulailah kita sekolah, mulailah kita berada di babak pertama dalam drama ratusan babak menuju impian, mulailah kita berada ditengah-tengah pentas agung kehidupan yang disutradari oleh Tuhan sendiri.
Mungkin saat masih di SD cita-cita itu tidak lebih dari sebuah pertanyaan menyebalkan dari Ayah, Ibu, Kakek, Paman, Guru, Tetangga, dan Orang-orang kurang kerjaan lainnya tentang mau jadi apa kalau besar nanti, tidak lebih.
Tapi disaat drama tadi mulai memasuki fase konflik, cita-cita itu tentunya lebih dari pertanyaan tolol tadi, cita-cita kita adalah masa depan kita, jalan hidup kita, sesuatu yang tentunya lebih serius daripada sekedar (ingin jadi) dokter, guru, sopir bus ataupun ustadz, tapi adalah sebuah perjuangan yang harus kita menangkan.
Waktu yang dihabiskan kemudian menjadi sebuah perjalanan untuk mencari jati diri, untuk aktualisasi diri, untuk membuktikan hipotesa yang telah dibuat saat kecil. Beberapa orang kemudian berhasil menyusun postulat dirinya dengan mudah, sebagian membuktikan eksistensi dirinya dengan mati-matian, sebagian lain hanya berputar-putar kelelahan dalam pencarian diri yang tidak kunjung ketemu. Walaupun tidak ada yang pernah tahu seperti apa diri kita sebagaimana yang telah tertulis di Lahul Mahfudz, sekali lagi hanya bergulirnya waktu yang akan membuka lembaran-lembaran skrip yang telah ditulis itu, ditulis dengan sangat rinci sampai ke hitungan sekon dan mili sekon.
Maka dua puluh tahun lebih masa kemudian terlewati, drama agung karya Tuhan inipun mulai memasuki puncak ekstasenya, cerita mulai bergulir di twist yang bakalan mempengaruhi plot cerita di babak berikutnya, bagian yang paling menegangkan dan menarik kalau di sinetron. Anak-anak kecil yang dulu berceloteh dengan tanpa beban ingin menjadi dokter, guru, sopir bus dan ustadz pun kini sudah berubah, tangga yang mereka bangun maupun bangku kayu yang mereka bikin sudah berbentuk sekarang, namun tidak seperti yang mereka bayangkan.
Sang dokter kini menjadi seorang pemilik sebuah toko ponsel, sang guru kini seorang (calon) dosen yang melanjutkan kuliah keluar negeri, sang sopir bus kini seorang programmer di sebuah software-house partikelir, dan sang ustadz kini terjebak dalam tubuh seorang pegawai yang bekerja (konon) demi negara tanpa menyisakan sedikit pun cita-cita untuk menjadi ustadz seperti dulu.
Seperti halnya kupu-kupu yang tidak semuanya berwarna menarik, demikian juga dengan cita-cita yang tidak semuanya seperti apa yang kita impikan dahulu. Atau mungkin ini saatnya kita untuk bermimpi dan bercita-cita lagi sebagaimana puluhan tahun lampau, namun kali ini pertanyaannya bukan dari Ayah, Ibu, Kakek, Paman atau siapapun tapi dari diri kita sendiri, “Jadi apa ya kita 20 tahun ke depan?”


aku jga mo jd ah