Ufh…sekali lagi saya menjadi makhluk nocturnal yang bersaksi atas tenggelamnya matahari di antara gedung-gedung jakarta dan terbitnya matahari di langit buram kota yang sama.
Suatu pertanyaan yang tidak pernah jelas terjawab tentang apa dan kenapa, yang jelas hal ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya. Saat malam minggu merupakan malam yang dinikmati bersama dengan keluarga (entah dalam bentuk ayah, ibu, anak, istri atau calon istri sekalipun) saya justru menyibukkan diri saya dengan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dari Senin sampai Jumat, ah, deadline memang menyebalkan!
Saya tidak pernah suka untuk ber-nocturnal ria, walaupun kenyataanya lumayan sering, padahal insomnia pun tidak. Tidur saya seperti batu, seperti bayi, seperti kayu. Tenang, penuh kedamaian, meskipun sering ketika bangun pagi terasa pegal seperti habis dihajar oleh satu peleton Satpol PP lengkap dengan pentungannya.
Melewati hari tanpa memejamkan mata seperti yang dianjurkan oleh dokter jelas bukan gaya hidup yang sehat, gaya hidup teladan pun apalagi. Tapi aneh, ketika saya berada di jalan untuk kembali ke rumah di pagi hari, ada satu rasa puas, penuh kelegaan, suatu pagi yang seolah-olah penuh kemenangan dimana jalanan masih sepi dan saya dapat melaju ditengah cercah mentari yang menenangkan, bebas dan tanpa hambatan. Dengan pundak yang lega maka tidur pun menjadi urutan nomor entah ke seratus berapa. Tapi tidak hari ini.
-sayayangmasihmengantukdanbelumberolehkesadaransepenuhnya-


0 Tanggapan ke “Morning Blues…”