Kenal Hayao Miyazaki? jika belum mungkin selama ini saya asumsikan anda adalah seorang super sibuk yang tidak suka film kartun. Kenapa film kartun? Secara Pak Miyazaki ini adalah salah seorang sutradara anime (red: film kartun; red-terjemahan literal) jepang yang karya-karyanya “yet touchy but provocative”, mostly dalam film yang dibikin oleh beliau tema yang umum diambil adalah humanity’s relationship on nature and technology.
Perkenalan pertama saya dengan film-film Miyazaki bermula dari Spirited Away asal mula saya milih film ini semata karena saya cuma tertarik pada cover DVD nya yang gelap dan “kartun”. Setelah dibeli pun film ini sempat berhari-hari saya terlantarkan berdebu di sudut kamar saya, sungguh, waktu itu saya sempat meremehkan film ini. Hingga suatu waktu, entah alasan apa, saya putar juga film tadi. Dan ternyata selama hampir dua jam saya merasa menyesal, kenapa tidak dari dulu-dulu saya putar? Dikenal juga sebagai Sen to Chihiro no Kamikakushi, film ini telah memberikan saya suatu pengalaman baru, pengalaman yang meminjam dari sebuah review “sends us on a wild, weird journey through the world of Japanese folklore that is often humorous and whismical…”, begitulah, Spirited Away memberikan kesan pertamanya bagi saya.
Satu hal yang saya tangkap pula adalah karakter developmentnya yang kuat sepanjang film, Chihiro-sang tokoh utama-diawal digambarkan sebagai remaja tanggung yang egois dan menyebalkan, sepanjang film mengalami proses pendewasaan, dan belajar mengerti arti tanggung jawab dan berbagi. Yang dikemudian hari saya baru menyadari kalau hampir seluruh protagonis dari film-film Miyazaki memiliki karakter yang serupa.
Ada satu perasaan optimis, rileks dan hangat setelah menonton film Miyazaki pertama itu, suatu perasaan yang mirip khasiat endorphin yang dilepaskan oleh cokelat yang kita santap (cuma yang ini tidak bikin gemuk, hehe), bayangkan anda bangun di suatu pagi yang cerah oleh kicau burung dan terpaan lembut matahari di kulit anda disamping seseorang yang sangat anda sayangi, perasaan itulah yang saya alami saat pertama kali menonton Spirited Away, a truly heart-warming experience!
Berangkat dari pengalaman pertama saya tadi, esoknya berturut-turut Howl’s Moving Castle (Hauru no Ugoku Shiro) dan Princess Mononoke (Mononoke Hime) yang saya tonton, dan kembali, saya mendapatkan suatu perasaan yang sama seperti setelah saya menonton Spirited Away, dan tanpa sadar membuat diri saya bertepuk tangan setiap kali selesai menonton satu film.
Tidak seperti film-film yang meletakkan bad-guy dan good-guy dalam dua kutub yang ekstrem berlawan, Miyazaki membangun karakter penjahatnya secara ambigu, dengan alasan yang kuat kenapa ia menjadi jahat bahkan kadang membuat kita maklum kenapa ia “ditakdirkan” untuk jahat, bahkan membenarkannya kalau tidak boleh disebut mendukung. Pada akhirnya suatu eksplorasi Hayao Miyazaki yang penuh fantasi atas tema humanisme dan hubungannya dengan alam yang didalamnya terselip sebuah pesan-pesan moral tentang tanggung jawab, semangat dan pengorbanan yang disampaikan dalam bahasa gambar yang indah dan menakjubkan namun tetap membumi membuat saya tidak ragu lagi memproklamirkan bahwa Hayao Miyazaki adalah sutradara favorit saya.


emang bagus sih princess mononoke, cuman yang spirited away ga sempet nonton… ada DVD-nya? boleh tuh dioper kesini..
gimana kabarnya kim?
sapi:kabare baik2 ae bos…wah, sayang dong yang spirited away blm nonton, mo pinjem? lha monggo..
spirited away memang mooy…
sapi:wis nonton juga si mbah ternyata?