Marathon Nonton…

Weekend kemarin, setelah rampung dengan segala tetek-bengek urusan“rumah-tangga”, rencana saya mau nonton pementasan terakhir Kunjungan Cinta-nya Teater Koma sekaligus foto-foto ambil gambar, tapi berhubung hujan yang ujug-ujug jadi akrab dengan langit Jakarta akhir-akhir ini, terpaksa saya harus membatalkan rencana tersebut. Kecewa memang, tapi mau apalagi, toh saya tidak senekat itu, lagipula minggu kemarin juga sudah nonton tapi belum sempat foto-foto. Mungkin lain kali…

Akhirnya saya berpaling pada setumpuk dvd yang baru dibeli, belum sempat ditonton, saya pikir inilah saat yang tepat untuk menontonnya, sore hari, langit kelabu, hujan yang turun terus menerus dan suhu udara yang turun dibawah rata-rata normal, apa yang bisa dilakukan selain tidur, makan, nonton tv, atau kelonan (berhubung yang ini belum boleh, ya terpaksa ndak dilakukan) :D . Akhirnya dvd tadi yang jadi korban, mumpung ada waktu. Film pertama yang saya tonton adalah Tokyo Monogatari (Tokyo Story) film hitam-putih yang konon disebut-sebut sebagai masterpiece dari Yasujiro Ozu, sang quiet master. Ceritanya sih sederhana, cuma masalah keluarga, orangtua yang tinggal di desa datang mengunjungi anak-anaknya yang tinggal di kota besar (Tokyo), simpel, benar-benar simpel, bahkan sampai ke pergerakan kamera dalam film yang (juga) simpel, sepanjang saya tonton, kamera hanya bergerak satu kali pada satu scene, ketika kamera mengikuti dari belakang gerakan Bapak-Ibu Hirayama yang berjalan di tepi pantai. Dan cuma itu! Sepanjang film, posisi kamera lebih banyak diam, istilahnya stand-still, mulai dari scene dialog antar tokoh, sampai perpindahan antar scene, gambar yang tersaji adalah gambar yang diambil dari posisi kamera yang diam. Namun disinilah Yasujiro Ozu mempunyai trademark, maka tidak salah jika seorang Peter Bradshaw memberi julukan Ozu sebagai The Quiet-Master. Tentang cerita? Secara saya bukan seorang tukang kritik film profesional dengan segala istilah-istilah rumit yang hanya ada dibuku maka saya punya standar yang gampang untuk mengklasifikasikan sebuah film bagus atau tidak, sebuah film akan saya sebut bagus jika dalam setengah jam pertama nonton saya tidak ngantuk lalu tanpa sadar jatuh tidur, dan Tokyo Monogatari membuat saya terjaga sepanjang film sampai di akhir credit-title saya memberikan tepuk tangan. Untuk film yang saya sebut kurang bagus? Film-film yang ketika saya terbangun bahkan saya lupa judulnya.

Film kedua, DOA, pernah dengar DOA kan? Game X-box laris yang digemari banyak laki-laki karena “gambarnya”, maka filmnya Corey Yuen tadi juga tidak jauh beda dari “gambar” dalam gamenya (red: Corey Yuen ini sutradaranya, bukan yang main!). Film yang menyiksa, secara saya dalam setengah jam pertama harus berjuang melawan kantuk, hanya demi Holly Valance yang dalam film berlari-lari kesana kemari dalam “busana-yang-agak-kurang-sopan”. Tidak banyak yang bisa diceritakan disini selain mbak Holly yang “segar”. Film ketiga, Dreams (Yume) dari Akira Kurosawa, film yang terdiri dari kumpulan film pendek, dan terbagi dalam beberapa “dreams”, satu yang paling saya suka adalah “The Peach Orchard”, sebuah kombinasi powerful dari warna, komposisi dan scoring, feast for eyes! Satu yang sama-sama feast for eyes adalah “Crow” dimana Martin Scorsese muncul sebagai salah satu cast. Film keempat adalah Ohayo! (Good Morning), lagi-lagi dari Yasujiro Ozu, cuma kali ini gambarnya sudah berwarna (dimana termasuk dari sedikit film-film Ozu yang sudah berwarna), di luar kebiasaan, Ohayo adalah film komedi dari Ozu, dan seperti seharusnya komedi, film ini sukses membuat saya tertawa sepanjang durasinya terlebih adanya adegan-adegan bodoh yang melibatkan farting. Film yang simpel, berpusat pada kakak-adik Minoru dan Isamu yang menolak untuk bicara demi mewujudkan televisi yang jadi keinginan mereka. Ingat karakter Dwayne di Little Miss Sunshine?

Benar-benar marathon yang melelahkan, dari hari sabtu sampai minggu total empat film yang saya tonton, namun saya masih menyisakan yang terbaik untuk terakhir, Ran (Chaos),masterpiece terakhir dari Akira Kurosawa (konon).

4 Tanggapan ke “Marathon Nonton…”


  1. 1 escoret 31 Januari 2007 pukul 1:27 am

    huh,mana fotonya..????
    kurang lengkap boss..!!!!
    kurang mantabbzz….!!!

  2. 2 sapiterbang 3 Februari 2007 pukul 6:40 pm

    weks, dapet empat tanda tanya n tujuh tanda pentung…ampun juragan…

    hehe, lg males bkn skrinsut, koneksi lelet… :D

  3. 3 escoret 7 Februari 2007 pukul 4:11 am

    lg males..???? koneksi leles..???
    di bakar wae, aku ada molotov nganggur neh..!!!

    semangat..!!!!

    sapi: lha kok pentunge tambah akeh… :D


Tinggalkan Balasan




Diarsipkan

Admin