*
Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”.
Elephant sendiri bercerita tentang school shooting dengan kemiripan pada kejadian di Columbine, tragedi beberapa tahun lalu yang kini “hanya” diurutan ketiga dalam jumlah korban setelah Virginia. Film ini tidak mencoba menghakimi, tidak juga coba menciptakan suatu dramatisasi dari kejadian itu, semuanya hanya disajikan begitu saja, digelar seperti sayuran beku di supermarket, terserah mau dibeli atau tidak. Tidak ada pesan moral yang coba disisipkan paksa (atau saya yang kurang teliti?), juga bukan sebuah jawaban atas pertanyaan kenapa mereka harus melakukannya. Semuanya terserah pada kita untuk melihat permasalahan yang ada, apakah kita melihat gajah di dalam ruangan atau pura-pura tidak (mau) tahu. Ya, tidak mau tahu meskipun ada masalah yang segede gajah di depan kita. Elephant melemparkan tema-tema diantaranya, bullying, depression dan frustration yang dalam konteks ini terjadi dalam lingkup sekolah. Diluar itu? Tentu masalah yang ada lebih rumit dan ruwet lagi. Dan sialnya tidak cuma di Amerika sana tapi juga di negara ini, entahlah, jika di Amerika mereka punya akses pada senjata dan internet, tidak perlu heran jika balasan dari si korban adalah sebuah pembantaian. Lha di kita? Berhubung internet belum bisa dijangkau oleh seluruh warga (apalagi senjata) maka tali rafia atau obat serangga adalah jawabannya. Ada sesuatu yang salah jika itu terjadi dan orang yang melihatnya berpura-pura tidak peduli dengan hal itu, mereka membiarkan bahkan jika ada kesempatan ikut terlibat di dalamnya, setidaknya itu kesimpulan dangkal yang saya ambil. Jadi, anda melihat gajahnya?
*gambar dari: Wikipedia, hak cipta pada pembuat poster.


duh agak berat ya..
lg pengen liat yg ketawa2 sih…
btw, jangan lupa ada alste yang baru nih. Mo pake web.id blm diapprove..
Mampir balik… Balik mampir…
wah… sapi kok filmnya elephant???
Habis elephant kan twelve hehehe…
wah kok sama. pernah ngalamin juga di istora juga. nyesek memang, mungkin lebih liat2 dulu ke semua counter baru beli heheh. waktu itu aku novel the fall, aku belinya 50 rb, eh ada yg obral 20 rbu hehehe
wh kok komennya salah yak. maap…
tentang film gajah ini, aku mumet, ora gak tahu maksudnya. nonton nya pun tak sampai kelar
Like to see the movie. Nanti hunting ach…