*
Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”. Ada lagi sih

Dikomentarkan