Arsip untuk Kategori 'Free Thought'

Refleksi Tak Tahu Diri…

Dan disinilah saya, sendirian di kandang tempat saya menjadi buruh, berefleksi tentang dua puluh sekian tahun masa hidup saya yang tidak terduga, suatu masa yang tiba-tiba dialami seperti ujung adegan film ketika tombol fast-forward dari remote sebuah pemutar cakram ditekan. Seolah-olah ada sesuatu di luar sana yang mem-fast-forward kehidupan saya, dari seorang bayi kecil yang lahir di kota bernama lucu tahu-tahu menjadi seorang bocah muda yang menyenangi gem-bot seratusan rupiah untuk sekali main, dan dipercepat lagi menjadi seorang lelaki kecil yang bersekolah di depan kantor penguasa kota di pesisir jawa, hingga terlempar di belantara batavia untuk menjadi buruh atas nama negara. Samar masih tercium aroma krupuk gendar bersiram sambal pedas artifisial yang dibeli sepulang sekolah berseragam merah putih dulu, sayup masih terdengar deru bus kota yang menjadi andalan saya pulang dari sekolah berseragam biru putih silam, ah, masa yang terasa begitu syahdu, ketika dunia seolah hanya berputar dari rumah ke gedung sekolah, ketika persaingan hanya berarti siapa yang meraih lebih banyak nilai sembilan di buku laporan, itu saja, simpel.

Tidak ada yang saya sesali, Gusti Allah Maha Baik, apa yang terjadi adalah apa yang saya inginkan dan direstui Beliau. Mengalir, tanpa hambatan dengan tempo yang terkontrol, selamat sampai ke episode terkini. Ketika episode masa roman berkelindan, maka itulah masa yang terindah, ketika seorang lelaki tak tahu diri bertandang ke rumah sakit jiwa demi sebuah rasa penasaran, disanalah roman bermula, ketika beberapa baris pesan singkat berbalas dan keuntungan mengalir pada provider-selular-laknat-bertarif-mahal itu, disanalah cerita terurai. Dan tombol fast-forward kembali ditekan pada masa ketika sebuah janji terpatri, dalam balutan acara menjelang dini hari, itulah masa dimana lelaki tak tahu diri itu bukan lagi jadi dirinya sendiri tapi adalah suami seorang wanita dengan kecantikan bidadari. A damn filthy lucky guy!

Ah, suatu masa di masa lalu, betapa saya adalah lelaki tak tahu diri yang sangat beruntung itu.

Hari Blogger What?

Agak terlambat memang bagi saya untuk menyadari kalau hari ini adalah hari bloger nasional, hari yang setahun lalu dideklarasikan oleh Pak Menkominfo sebagai Hablona (Hari Blogger Nasional), hari yang (konon) sakral bagi sebagian besar jagad blogosphere Indonesia.

Tapi tidak bagi saya, entahlah, apa yang saya lakukan setahun yang lalu saat mereka berkumpul dalam Pesta Blogger 2007 dan mendeklarasikan hari blogger itu, tidur mungkin.  Saya memang nge-blog, namun saya bukan blogger aktif, menyimak istilah dari wiki cahandong, saya pasti termasuk dalam kategori ciken apdet, yang tentunya akan saya terima dengan bangga, lha wong itu kenyataannya. Setahun berlalu, visi sosial dari blogger nasional terdefinisikan dalam tema Pesta Blogger tahun ini, “Blogging For Society”, tema besar yang tidak sekedar main-main di halaman belakang rumah namun beranjak ke suatu bentuk kepedulian sosial yang lebih besar. Suatu kontribusi nyata yang bakal meng-counter pendapat dari seorang “tokoh” yang pernah mencerca bahwa blog hanya merupakan katarsis belaka.

Hari ini, 27 Oktober 2008, hari yang dirayakan meriah di jejaring internet di Indonesia, semoga apa yang telah dirumuskan dalam tema besar Pesta Blogger 2008 dapat menjadi karya yang konkrit, bukan hanya perang kata-kata yang berbusa-busa di dunia maya, namun abai terhadap dunia di sekitar kita yang bahkan mengenal internet pun tidak apalagi sadar kalau ini adalah hari blogger nasional.

Selamat Hari Blogger Nasional!

Elephant in the room!

 

*

Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”. Ada lagi sih


Diarsipkan

Admin