- Just For Now, by Imogen Heap dari album Speak for Yourself. Sang vokalis Frou Frou masih dengan angelic-voice nya yang ethereal dan soothing.
- Kill the President, lagu dari Drugstore dimana Thom Yorke dari Radiohead berduet vokal dengan Isabel Monteiro sang front-woman Drugstore. Melodic, hallow-nic sound (halah), dream-pop, what else you can expect from a yawning day?
- Burn This City Down, lagu dari Inspirational Joni, band (indie) lokal, mengaku “playin some kick ass guitars, killer bass, raw synth and organ and also heart pounder drums for you to dance with”, tapi yang jelas membuat saya mengulangi lagu ini 6 kali berurutan and jiggling my feet along with.
Tertarik?
Arsip untuk Kategori 'Hobby!'
Just For Now Kill the President and Burn This City Down
Diterbitkan 17 Desember 2007 A day in a life of a cow , Hobby! 4 KomentarTransport Tycoon Anyone?
Diterbitkan 7 Desember 2007 A day in a life of a cow , Hobby! , Review-nya Sapi 2 KomentarPada jamannya, animasi yang ditampilkan sangat mengesankan, simpel namun tepat sasaran, animasi bus yang mogok dan pesawat yang hendak take-off ditampilkan dalam game dengan halus dan menarik, pilihan kendaraan pun akan berkembang seiring dengan jaman (anda tidak akan menemukan Concorde ataupun kereta cepat ala Maglev saat timeline game menunjuk tahun 1940). Akan tetapi sayangnya, sound effect untuk setiap jenis kendaraan terdengar monoton (anda tidak akan bisa membedakan suara antara Boeing dan Airbus yang hendak take-off) tapi bagi saya itu bukan masalah besar, lebih ke arah icing-on-the-cake saja. Yang jelas bagi saya, game ini addictive!
image taken from: wikipedia
Saya Khilaf, eh Kalap… (Catatan Dari Suatu Sore)
Diterbitkan 12 Juni 2007 A day in a life of a cow , Hobby! , Review-nya Sapi 6 Komentar
Maka jadilah bensin setara 65 liter itu dihamburkan dalam wujud lembaran-lembaran kertas buku, tidak semuanya baru, bahkan dua judul berupa buku bekas (dan sialnya justru jadi yang paling mahal). Dimulai dari penyusuran di sayap kanan Istora yang didominasi oleh penerbit-penerbit “klasik” seperti Djambatan dan Salemba Empat, ketidaksadaranpun dimulai, tidak banyak yang menarik, selain buku-buku diktat kuliah yang terasa basi dan stand Majalah Anima (?), meski begitu sekitar 15 an liter bensin juga terhambur disini untuk dua buku, yang pertama Kado Menyambut Buah Hati (hehe…) dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan The Crystal Garden-nya Mohsen Makhmalbaf. Separuh putaran berlanjut ke sayap kiri, dan berderet beberapa penerbit buku-buku eksotis (menurut saya) diantaranya adalah Lontar, yang menggoda dengan harga puluhan ribu untuk karya sastra lokal terjemahannya, tapi tidak cukup mampu menggoncang tangki bensin saya. Disebelahnya, (ini salah satu godaan tersulit), Menerjang Harapan Dari Jakarta Menuju Gedung Putih ditawarkan dalam harga diskon, cukup murah dibanding harga yang dipasang oleh Gramedia, namun toh saya memilih untuk melewatinya dulu terlebih di seberangnya setumpuk buku-buku kusam lebih menarik perhatian saya. Dan disinilah “malapetaka” itu terjadi. Yang pertama cuma buku ukuran saku, bersampul kover sederhana, cuma foto dengan judul yang kapital tebal, Bung Karno: Bapakku-Kawanku-Guruku, buku lama, yang dulu ringkasannya pernah saya baca di rubrik Terawangnya Intisari, bukan berisi ide-ide besar dari Si Bung yang anti-imperialisme ataupun pidato-pidato panjangnya yang berbusa-busa dan menggugah semangat, bukan, hanya sebuah catatan ringan mirip skrip naskah dari sebuah adegan dalam film yang ditulis ulang, tapi bedanya berisi kejadian nyata sehari-hari dari BK dan Guntur Soekarno Putra (sang penulis). Lucu, menghibur, sekaligus 8,9 liter bensin!. Tapi belum separah buku kedua, yang setara 38,8 liter bensin untuk sebuah cetakan lama The Rise and Fall of the Third Reich dari William L. Shirer. Total kerusakan sejauh ini 62,7 liter.
Seharusnya saya segera tersadar, secara saya sudah melampaui plafon anggaran bulanan saya untuk konsumsi literatur, terlebih dua hari sebelumnya Semua Berawal Dengan Keteladanan: Catatan Kritis Rosihan Anwar dan Jejak Langkah dari Pak Pram juga sudah terbeli (tidak termasuk Shonen Magz yang rutin dibeli sebulan sekali), tapi di pintu keluar, buku obral sepuluh ribuan dari Penerbit Gramedia masih terlalu sayang untuk dilewatkan, maka Sekali Merengkuh Dayung dari Diah Marsidi pun kembali terbeli. Akhirnya ketidaksadaran saya pun berakhir dengan tamparan keras sore itu, Semua Berawal Dengan Keteladanan di stand itu dijual dengan harga diskon, terpaut 3,7 liter bensin dengan harga yang saya peroleh dari Gramedia Toko Buku. Siaaal!
Elephant in the room!
Diterbitkan 10 Mei 2007 Free Thought , Hobby! , Omong Kosong! , Review-nya Sapi 5 Komentar
*
Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”. Ada lagi sih

Dikomentarkan