Arsip untuk Kategori 'Milangkori'

Journey of Hundreds Kilometres…

Halah…lha wong intinya cuma mau pulang kampung (lagi) ke those lovely city (dan ke my lovely-one juga tentunya, ^^’)…hekekeke.

Minggu yang membosankan, dengan latar hanya berkisar dari ruang rapat-komputer-wc-masjid-indomaret, jika itu sebuah drama maka penata panggung adalah orang yang sangat beruntung dalam drama berbabak-babak kehidupan saya karena tidak repot dengan set yang rumit dan ratusan.

Dan minggu ini sudah sampai di hari Jumat. Saatnya bagi para weekend-husband (or boyfriend perhaps?) untuk pulang…itu kata teman saya lho. Hekekeke (lagi) :D

Wis ah, mulih-mulih… (red: pulang)
Pareng, tabik…

Tiga kali Naik, Tiga kali Turun…

Maka setelah mengalami delay “karena-alasan-operasional” itu, si mbak-yang-manis-tapi-judes itu membolehkan kami untuk boarding, jadwal di tiket sih gagah, ditulis 16.30, tapi tunggu-punya-tunggu baru jam 18.00 lebih kami baru boleh naik. Selama itu saya cuma bisa pasrah, bolak-balik dari ruang tunggu terminal ke koridor kemudian balik ke ruang tunggu lagi, gara-gara asap rokok yang mengepul seperti kabut (padahal tanda dilarang merokok itu seharusnya jelas terlihat oleh mereka), beruntung mushola di bawah cukup sepi untuk sekedar menunggu…

Dan ternyata delay itu hanya pembuka bagi siksaan lain selama 4,5 jam kedepan, secara saya ini orang yang ndeso (red: kampung;jawa) maka kuping saya pun protes ketika Lion (ya, Lion!)  JT-740 mencapai ketinggian jelajah, rasanya budeg nggak karuan dan seolah ada kendang kecil yang dipukul ritmis di kuping kanan saya, belum lagi pendingin udara yang nggak jelas, dingin ndak, bikin sakit iya, lengkap kan?

Menjelang berangkat saya baru sadar kalau Jakarta-Manado itu bakal ditempuh dengan dua kali transit via Denpasar dan Makasar (WTF?), hal itu berarti saya bakal mengalami 3 kali take-off dan 3 kali landing juga, dimana setiap satunya saja sudah cukup membuat kuping ndeso saya ini semakin menderita, apalagi permen karet yang katanya membantu mengurangi kebudegan ternyata tidak terlalu membantu… :(

Jadilah malam itu seolah-olah saya penumpang abadi di pesawat itu, cuma saya yang masih membatu di kursi yang sama sementara orang-orang naik dan turun, dari Jakarta, di sebelah saya diisi pasangan suami-istri yang (kelihatannya) bakal berlibur ke Bali, turun di Denpasar ganti dua orang ibu-ibu yang (seperti) habis arisan, di Makasar kembali ibu-ibu yang kali ini entah apa yang mereka habis lakukan. Tiba-tiba saya baru ngeh kalau maskapai lokal itu mem-pekerjarodi-kan armada mereka,lha kok? Lha coba, dari Jakarta itu disebutkan kalau 747-400 ini baru datang dari Banjarmasin, langsung terbang ke Denpasar, lanjut ke Makasar sebelum finish di Manado, cukup? Belum, darisana masih lanjut lagi entah kemana, yang jelas tidak parkir di Manado. Nggak heran, jika lalu muncul berita-berita ‘minor-accident’ disana-sini, apalagi saya naik Lion yang terkenal dengan reputasi ‘miring’nya. Syukurlah Gusti Allah Maha Baik…

Akhirnya jam di hape saya menunjuk angka 00.30 ketika mbak pramugari di ujung lorong berkata “selamat datang di Sam Ratulangi, International Airport Manado, Lion Air mohon maaf atas keterlambatan karena alasan operasional, bla-bla-bla…”, setengah budeg-setengah sempoyongan saya turun dari tangga, melewati ruang tunggu boarding yang senyap, teman di ruang penjemput sms “kalau sudah sampai telp ya..” saat itu saya baru sadar kalau jam saya di Manado ini telat satu jam, sudah jam 01.30, terlalu pagi untuk sampai di sebuah kota…*keluh

 

 

The Flying Sapi

Ya, sore ini untuk pertama kalinya saya akan terbang ke Sulawesi. Seumur-umur baru sekali ini saya berkesempatan ke pulau berbentuk huruf K itu, jika hal itu terjadi maka total lima pulau di negara ini yang sudah pernah saya injak.

Bukan sesuatu yang istimewa, banyak orang lain yang pernah menjelajahi hampir seluruh sudut indonesia ini, ratusan yang pernah menginjakkan kaki di seluruh pulau utama negeri ini, tapi tetap buat saya hal ini milestone yang berhasil saya capai.

Amin.

(sayayangagakH2Cgaragaranaiklion) :D

City of spectacle and parade….

Saya itu ndak terlalu suka Jakarta. Walaupun saya suka jalan-jalan atau bahasa kerennya traveling, tapi bagi saya Jakarta bukan tempat yang saya suka untuk dibuat traveling. Memang, kata sebagian teman, kota ini punya segalanya, a city of spectacle and parade gitu…

Bukan apa-apa, bukan dendam atau dengki, bukan juga sentimen apalagi rasis, tapi lebih merupakan masalah selera dan chemistry (walah!), saya ndak dapet itu namanya chemistry yang gimana gitu pas saya jalan-jalan di jalanan kota ini. Rasanya nggak mak nyus, kayak Pak Bondan kalau pas nemu kuliner yang enak, walaupun banyak sesawangan (red: objek tontonan; jawa) yang hebat dan breathtaking. Misalnya saja anda (yang bukan orang jakarta atau sering ke jakarta lho) pas lewat di sepanjang jalan thamrin-sudirman, dijamin sadar atau nggak pasti noleh kanan-kiri, mbuh itu liat gedung yang jangkung-jangkung, air mancur bunderan HI atau cewek-cewek cakep nan modis yang seliweran di sepanjang trotoar jalan. Yang jelas secara normal, jakarta menawarkan banyak sekali momen dan ikon yang memanjakan mata, kemarin dulu di depan Bappenas ada ikon baru lagi, patung diponegoro yang megah dan gagah, alhasil kawasan yang bersangkutan jadi tambah asri dan mewah.

Tapi ya itu tadi, tetep bagi saya Jakarta nggak mak nyus buat saya, nggak usah dulu ngomongin, “gara-gara kriminalitasnya ya?”, atau menuduh kumuhnya bedeng-bedeng di sekitar manggarai, atau menyalahkan ruwetnya lalu lintas harmoni pas jam sibuk, mengutuk jalanan yang pasti banjir walaupun hujan cuma mampir juga jangan, karena bagi saya, tanpa itu semua kota inipun juga tetep nggak gimana gitu (err…mungkin gak sih?). Karena hampir semua kota besar di Indonesia punya masalah yang sama, di Semarang jalan banjir gara-gara hujan sering, di Surabaya sama panasnya. Jadi saya pikir, panas, ruwet, sumpek, dst-dst bukan alasan untuk membenci Jakarta sebenarnya.

Dan saya….sekali lagi, saya, nggak suka jakarta juga bukan karena itu, tapi karena hati saya berkata tidak (cieee, hati?), :p nggak tau kenapa, tapi saya merasa lebih nyaman naik angkot yang sama-sama bobroknya di Semarang daripada di Jakarta, saya juga lebih senang montor-montoran (red: naik motor; jawa) di Jogja daripada di Jakarta, sampai makan di warung pun lebih terasa enak kalau di Semarang…

Akhirul kalam, maaf kalo dianggap nggedabrus (red: cerita nggak jelas, omong kosong; jawa).


Parengnuwun!