Saya itu ndak terlalu suka Jakarta. Walaupun saya suka jalan-jalan atau bahasa kerennya traveling, tapi bagi saya Jakarta bukan tempat yang saya suka untuk dibuat traveling. Memang, kata sebagian teman, kota ini punya segalanya, a city of spectacle and parade gitu…
Bukan apa-apa, bukan dendam atau dengki, bukan juga sentimen apalagi rasis, tapi lebih merupakan masalah selera dan chemistry (walah!), saya ndak dapet itu namanya chemistry yang gimana gitu pas saya jalan-jalan di jalanan kota ini. Rasanya nggak mak nyus, kayak Pak Bondan kalau pas nemu kuliner yang enak, walaupun banyak sesawangan (red: objek tontonan; jawa) yang hebat dan breathtaking. Misalnya saja anda (yang bukan orang jakarta atau sering ke jakarta lho) pas lewat di sepanjang jalan thamrin-sudirman, dijamin sadar atau nggak pasti noleh kanan-kiri, mbuh itu liat gedung yang jangkung-jangkung, air mancur bunderan HI atau cewek-cewek cakep nan modis yang seliweran di sepanjang trotoar jalan. Yang jelas secara normal, jakarta menawarkan banyak sekali momen dan ikon yang memanjakan mata, kemarin dulu di depan Bappenas ada ikon baru lagi, patung diponegoro yang megah dan gagah, alhasil kawasan yang bersangkutan jadi tambah asri dan mewah.
Tapi ya itu tadi, tetep bagi saya Jakarta nggak mak nyus buat saya, nggak usah dulu ngomongin, “gara-gara kriminalitasnya ya?”, atau menuduh kumuhnya bedeng-bedeng di sekitar manggarai, atau menyalahkan ruwetnya lalu lintas harmoni pas jam sibuk, mengutuk jalanan yang pasti banjir walaupun hujan cuma mampir juga jangan, karena bagi saya, tanpa itu semua kota inipun juga tetep nggak gimana gitu (err…mungkin gak sih?). Karena hampir semua kota besar di Indonesia punya masalah yang sama, di Semarang jalan banjir gara-gara hujan sering, di Surabaya sama panasnya. Jadi saya pikir, panas, ruwet, sumpek, dst-dst bukan alasan untuk membenci Jakarta sebenarnya.
Dan saya….sekali lagi, saya, nggak suka jakarta juga bukan karena itu, tapi karena hati saya berkata tidak (cieee, hati?), :p nggak tau kenapa, tapi saya merasa lebih nyaman naik angkot yang sama-sama bobroknya di Semarang daripada di Jakarta, saya juga lebih senang montor-montoran (red: naik motor; jawa) di Jogja daripada di Jakarta, sampai makan di warung pun lebih terasa enak kalau di Semarang…
Akhirul kalam, maaf kalo dianggap nggedabrus (red: cerita nggak jelas, omong kosong; jawa).
Pareng…nuwun!
Dikomentarkan