Maka setelah mengalami delay “karena-alasan-operasional” itu, si mbak-yang-manis-tapi-judes itu membolehkan kami untuk boarding, jadwal di tiket sih gagah, ditulis 16.30, tapi tunggu-punya-tunggu baru jam 18.00 lebih kami baru boleh naik. Selama itu saya cuma bisa pasrah, bolak-balik dari ruang tunggu terminal ke koridor kemudian balik ke ruang tunggu lagi, gara-gara asap rokok yang mengepul seperti kabut (padahal tanda dilarang merokok itu seharusnya jelas terlihat oleh mereka), beruntung mushola di bawah cukup sepi untuk sekedar menunggu…
Dan ternyata delay itu hanya pembuka bagi siksaan lain selama 4,5 jam kedepan, secara saya ini orang yang ndeso (red: kampung;jawa) maka kuping saya pun protes ketika Lion (ya, Lion!) JT-740 mencapai ketinggian jelajah, rasanya budeg nggak karuan dan seolah ada kendang kecil yang dipukul ritmis di kuping kanan saya, belum lagi pendingin udara yang nggak jelas, dingin ndak, bikin sakit iya, lengkap kan?
Menjelang berangkat saya baru sadar kalau Jakarta-Manado itu bakal ditempuh dengan dua kali transit via Denpasar dan Makasar (WTF?), hal itu berarti saya bakal mengalami 3 kali take-off dan 3 kali landing juga, dimana setiap satunya saja sudah cukup membuat kuping ndeso saya ini semakin menderita, apalagi permen karet yang katanya membantu mengurangi kebudegan ternyata tidak terlalu membantu…:(
Jadilah malam itu seolah-olah saya penumpang abadi di pesawat itu, cuma saya yang masih membatu di kursi yang sama sementara orang-orang naik dan turun, dari Jakarta, di sebelah saya diisi pasangan suami-istri yang (kelihatannya) bakal berlibur ke Bali, turun di Denpasar ganti dua orang ibu-ibu yang (seperti) habis arisan, di Makasar kembali ibu-ibu yang kali ini entah apa yang mereka habis lakukan. Tiba-tiba saya baru ngeh kalau maskapai lokal itu mem-pekerjarodi-kan armada mereka,lha kok? Lha coba, dari Jakarta itu disebutkan kalau 747-400 ini baru datang dari Banjarmasin, langsung terbang ke Denpasar, lanjut ke Makasar sebelum finish di Manado, cukup? Belum, darisana masih lanjut lagi entah kemana, yang jelas tidak parkir di Manado. Nggak heran, jika lalu muncul berita-berita ‘minor-accident’ disana-sini, apalagi saya naik Lion yang terkenal dengan reputasi ‘miring’nya. Syukurlah Gusti Allah Maha Baik…
Akhirnya jam di hape saya menunjuk angka 00.30 ketika mbak pramugari di ujung lorong berkata “selamat datang di Sam Ratulangi, International Airport Manado, Lion Air mohon maaf atas keterlambatan karena alasan operasional, bla-bla-bla…”, setengah budeg-setengah sempoyongan saya turun dari tangga, melewati ruang tunggu boarding yang senyap, teman di ruang penjemput sms “kalau sudah sampai telp ya..” saat itu saya baru sadar kalau jam saya di Manado ini telat satu jam, sudah jam 01.30, terlalu pagi untuk sampai di sebuah kota…*keluh
Dikomentarkan