Arsip untuk Kategori 'Omong Kosong!'

Hey Adam, buang saja Top Brand itu!

Dan tertegunlah saya ketika membuka web maskapai penerbangan yang sedang jadi berita itu. Berita basi beberapa hari yang lalu dan kronologis jatuhnya AdamAir di Majene membuat segalanya seolah berkontradiksi dengan apa yang mereka (masih) tampilkan di web.

Maskapai dengan Top Brand 2008? Official Carrier PON XVII Tahun 2008? Lupakan saja, sekarang semuanya tinggal masa lalu. Lalu darimana Top Brand itu? Bagaimana nasib PON XVII yang disponsorinya? Peduli setan, semuanya hanya akan jadi sepotong sejarah pahit dipampang dengan judul-judul besar, “Potret Buram Industri Penerbangan Indonesia”. Ah, bangsa yang penuh ironi.

*yangprihatinpernahkemanadotapitidakdenganadamair*

Tahu-tahu Tahun Baru

Dan berakhirlah Tahun 2007 kemarin, hari-hari babi api yang berganti menjadi hari-hari tikus tanah. Hari-hari yang sudah menyita jatah umur saya di muka bumi. Lebih dari tiga-ratus-enam-puluh-lima malam yang akan menjadi legenda. Tahun dimana saya menyempurnakan dien saya.

Sejumlah harapan ditebar, semoga yang terjadi setahun belakangan akan membawa kebaikan bagi bumi yang sudah hiruk pikuk ini. Tahun yang penuh bencana seperti di 2006 dan 2007 silam semoga tidak terulang lagi dan membuat manusia semakin bijak dengan lingkungannya, semoga kedamaian tercipta di bumi. Semoga konferensi yang kemarin bakal menuai hasilnya di tahun tikus ini.

Dimulailah kalender baru di tahun 2008, tahunnya sepakbola (seperti kata bos MNC di iklan mereka, :P ) yang tentunya juga masih diselingi oleh tatapan sinis bapak tua penjual mainan keliling yang saya temui tentang harapan akan kesejahteraan di tahun baru ini. Apatis? Mungkin saja.

New Year resolution
saya? Sejumlah doa pada diri saya dan keluarga tentunya. Happy New Year semuanya!

Selamat Datang Kembali Untuk Saya!

Blog saya itu sebenarnya blog bingung, lebih ke arah sporadic-blogging (hayyah!), kalau Roy Suryo (Hi Roy!TM) kebetulan lagi googling untuk membuktikan kalau blog itu hanya tren sesaat dan hanya bersifat katarsis dan ndilalah (red: tiba-tiba saja; jawa) mampir ke blog saya, mungkin pendapat beliau ada benarnya juga :D. Dari sekian ratus juta (ternyata hanya ratusan ribu) :P akun di wordpress yang teregister maka saya adalah salah satu yang memanfaatkan blog hanya sebagai pembuangan sampah saja, membuang segala sesuatu yang tidak berguna, semudah membuang kulit pisang dari jendela mobil ataupun menekan gagang flush toilet sehabis ber-hajat.

Kalau boleh beralasan sebenarnya lebih ke arah kesibukan (klise :P) yang menyita waktu dan tidak menyempatkan diri untuk sekedar menulis, serta lambatnya otak saya untuk berpikir tentang ide sederhana yang hendak dibuang ke blog ini atau dengan kata lain yang lebih sederhana, malas. Entahlah, sudah berapa lama semenjak tulisan terakhir saya disini, setelah sejumlah hiruk pikuk dan haru biru dalam kehidupan saya akhirnya inilah hasilnya, sebuah tulisan sampah bukan tentang apapun, hanya katarsis, sia-sia sebenarnya jika ada yang membacanya. (:D).

Jadi? Apa yang sebenarnya hendak saya katakan? Tidak ada, hanya sebuah kata pembuka (lagi) seperti seorang penulis wanna-be yang menuliskan sepatah dua patah kata di halaman depan buku terbarunya, seperti sambutan panjang bertele-tele tanpa isi dari pejabat anu saat peresmian sebuah proyek itu. Tidak ada, sungguh. He he… 

Elephant in the room!

 

*

Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”. Ada lagi sih

Halaman Berikutnya »