Entah apa yang ada dipikiran saya ketika di suatu sore di hari Kamis minggu lalu berbelanja buku setara dengan 65 liter bensin murni tanpa campuran dengan harga pertamina. Ya-ya, saya memang kalap (atau khilaf?), Pesta Buku Jakarta di Istora Senayan minggu kemarin adalah saat dimana untuk sesaat saya kehilangan kesadaran, terlebih jika mengingat tujuan awal yang hanya memenuhi ajakan rekan satu kandang untuk sekedar “mampir-melihat”. Tapi rupanya godaan dari ratusan rak dan ribuan judul buku yang dipajang di ratusan stand penerbit lebih mampu mempengaruhi kesadaran saya daripada sekedar tekad basa-basi saat berangkat di awal tadi.
Maka jadilah bensin setara 65 liter itu dihamburkan dalam wujud lembaran-lembaran kertas buku, tidak semuanya baru, bahkan dua judul berupa buku bekas (dan sialnya justru jadi yang paling mahal). Dimulai dari penyusuran di sayap kanan Istora yang didominasi oleh penerbit-penerbit “klasik” seperti Djambatan dan Salemba Empat, ketidaksadaranpun dimulai, tidak banyak yang menarik, selain buku-buku diktat kuliah yang terasa basi dan stand Majalah Anima (?), meski begitu sekitar 15 an liter bensin juga terhambur disini untuk dua buku, yang pertama Kado Menyambut Buah Hati (hehe…) dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan The Crystal Garden-nya Mohsen Makhmalbaf. Separuh putaran berlanjut ke sayap kiri, dan berderet beberapa penerbit buku-buku eksotis (menurut saya) diantaranya adalah Lontar, yang menggoda dengan harga puluhan ribu untuk karya sastra lokal terjemahannya, tapi tidak cukup mampu menggoncang tangki bensin saya. Disebelahnya, (ini salah satu godaan tersulit), Menerjang Harapan Dari Jakarta Menuju Gedung Putih ditawarkan dalam harga diskon, cukup murah dibanding harga yang dipasang oleh Gramedia, namun toh saya memilih untuk melewatinya dulu terlebih di seberangnya setumpuk buku-buku kusam lebih menarik perhatian saya. Dan disinilah “malapetaka” itu terjadi. Yang pertama cuma buku ukuran saku, bersampul kover sederhana, cuma foto dengan judul yang kapital tebal, Bung Karno: Bapakku-Kawanku-Guruku, buku lama, yang dulu ringkasannya pernah saya baca di rubrik Terawangnya Intisari, bukan berisi ide-ide besar dari Si Bung yang anti-imperialisme ataupun pidato-pidato panjangnya yang berbusa-busa dan menggugah semangat, bukan, hanya sebuah catatan ringan mirip skrip naskah dari sebuah adegan dalam film yang ditulis ulang, tapi bedanya berisi kejadian nyata sehari-hari dari BK dan Guntur Soekarno Putra (sang penulis). Lucu, menghibur, sekaligus 8,9 liter bensin!. Tapi belum separah buku kedua, yang setara 38,8 liter bensin untuk sebuah cetakan lama The Rise and Fall of the Third Reich dari William L. Shirer. Total kerusakan sejauh ini 62,7 liter.
Seharusnya saya segera tersadar, secara saya sudah melampaui plafon anggaran bulanan saya untuk konsumsi literatur, terlebih dua hari sebelumnya Semua Berawal Dengan Keteladanan: Catatan Kritis Rosihan Anwar dan Jejak Langkah dari Pak Pram juga sudah terbeli (tidak termasuk Shonen Magz yang rutin dibeli sebulan sekali), tapi di pintu keluar, buku obral sepuluh ribuan dari Penerbit Gramedia masih terlalu sayang untuk dilewatkan, maka Sekali Merengkuh Dayung dari Diah Marsidi pun kembali terbeli. Akhirnya ketidaksadaran saya pun berakhir dengan tamparan keras sore itu, Semua Berawal Dengan Keteladanan di stand itu dijual dengan harga diskon, terpaut 3,7 liter bensin dengan harga yang saya peroleh dari Gramedia Toko Buku. Siaaal!
Dikomentarkan