Arsip untuk Kategori 'Review-nya Sapi'

Transport Tycoon Anyone?

Alkisah beberapa belas tahun yang lalu ketika Windows 95 begitu merajai dan game DOS-based masih berseliweran di gamesphere tersebutlah sebuah game legendaris from en.wikipedia.comyang menyita waktu istirahat malam saya selama berpuluh-puluh malam, adalah Transport Tycoon game dari duo legenda Chris Sawyer dan MicroProse, yang membuat saya (saat itu) terkagum-kagum dengan konsepnya. Ya, sebuah game simulasi yang memberikan skenario kepada kita untuk menjadi seorang tycoon perusahaan transportasi. Terdengar membosankan? Ho ho…tidak untuk saya, bayangkan saja disana anda mengontrol semua moda transportasi yang ada, mulai dari darat, laut, bahkan udara pun tercakup di dalamnya, ditambah dengan plethora of vehicles to choose, membuat game ini menantang. Masih belum terdengar menarik? Bayangkan saja SimCity (2000) namun titik beratnya ada di sektor transportasinya, disini anda adalah builder sekaligus manager, anda bisa membangun jalan yang menghubungkan kota-kota yang ada pada peta, membuat jalur kereta dari satu pabrik ke pabrik lainnya, membuat moda udara? Tentunya bisa saja.

Pada jamannya, animasi yang ditampilkan sangat mengesankan, simpel namun tepat sasaran, animasi bus yang mogok dan pesawat yang hendak take-off ditampilkan dalam game dengan halus dan menarik, pilihan kendaraan pun akan berkembang seiring dengan jaman (anda tidak akan menemukan Concorde ataupun kereta cepat ala Maglev saat timeline game menunjuk tahun 1940). Akan tetapi sayangnya, sound effect untuk setiap jenis kendaraan terdengar monoton (anda tidak akan bisa membedakan suara antara Boeing dan Airbus yang hendak take-off) tapi bagi saya itu bukan masalah besar, lebih ke arah icing-on-the-cake saja. Yang jelas bagi saya, game ini addictive!

Tertarik? Disini (versi TTD) atau Disana (versi OpenTTD). Jangan lupa untuk set compability-nya ke Windows 95 (yang versi TTD). Just play!

image taken from: wikipedia

Saya Khilaf, eh Kalap… (Catatan Dari Suatu Sore)

Entah apa yang ada dipikiran saya ketika di suatu sore di hari Kamis minggu lalu berbelanja buku setara dengan 65 liter bensin murni tanpa campuran dengan harga pertamina. Ya-ya, saya memang kalap (atau khilaf?), Pesta Buku Jakarta di Istora Senayan minggu kemarin adalah saat dimana untuk sesaat saya kehilangan kesadaran, terlebih jika mengingat tujuan awal yang hanya memenuhi ajakan rekan satu kandang untuk sekedar “mampir-melihat”. Tapi rupanya godaan dari ratusan rak dan ribuan judul buku yang dipajang di ratusan stand penerbit lebih mampu mempengaruhi kesadaran saya daripada sekedar tekad basa-basi saat berangkat di awal tadi.

Maka jadilah bensin setara 65 liter itu dihamburkan dalam wujud lembaran-lembaran kertas buku, tidak semuanya baru, bahkan dua judul berupa buku bekas (dan sialnya justru jadi yang paling mahal). Dimulai dari penyusuran di sayap kanan Istora yang didominasi oleh penerbit-penerbit “klasik” seperti Djambatan dan Salemba Empat, ketidaksadaranpun dimulai, tidak banyak yang menarik, selain buku-buku diktat kuliah yang terasa basi dan stand Majalah Anima (?), meski begitu sekitar 15 an liter bensin juga terhambur disini untuk dua buku, yang pertama Kado Menyambut Buah Hati (hehe…) dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan The Crystal Garden-nya Mohsen Makhmalbaf. Separuh putaran berlanjut ke sayap kiri, dan berderet beberapa penerbit buku-buku eksotis (menurut saya) diantaranya adalah Lontar, yang menggoda dengan harga puluhan ribu untuk karya sastra lokal terjemahannya, tapi tidak cukup mampu menggoncang tangki bensin saya. Disebelahnya, (ini salah satu godaan tersulit), Menerjang Harapan Dari Jakarta Menuju Gedung Putih ditawarkan dalam harga diskon, cukup murah dibanding harga yang dipasang oleh Gramedia, namun toh saya memilih untuk melewatinya dulu terlebih di seberangnya setumpuk buku-buku kusam lebih menarik perhatian saya. Dan disinilah “malapetaka” itu terjadi. Yang pertama cuma buku ukuran saku, bersampul kover sederhana, cuma foto dengan judul yang kapital tebal, Bung Karno: Bapakku-Kawanku-Guruku, buku lama, yang dulu ringkasannya pernah saya baca di rubrik Terawangnya Intisari, bukan berisi ide-ide besar dari Si Bung yang anti-imperialisme ataupun pidato-pidato panjangnya yang berbusa-busa dan menggugah semangat, bukan, hanya sebuah catatan ringan mirip skrip naskah dari sebuah adegan dalam film yang ditulis ulang, tapi bedanya berisi kejadian nyata sehari-hari dari BK dan Guntur Soekarno Putra (sang penulis). Lucu, menghibur, sekaligus 8,9 liter bensin!. Tapi belum separah buku kedua, yang setara 38,8 liter bensin untuk sebuah cetakan lama The Rise and Fall of the Third Reich dari William L. Shirer. Total kerusakan sejauh ini 62,7 liter.

Seharusnya saya segera tersadar, secara saya sudah melampaui plafon anggaran bulanan saya untuk konsumsi literatur, terlebih dua hari sebelumnya Semua Berawal Dengan Keteladanan: Catatan Kritis Rosihan Anwar dan Jejak Langkah dari Pak Pram juga sudah terbeli (tidak termasuk Shonen Magz yang rutin dibeli sebulan sekali), tapi di pintu keluar, buku obral sepuluh ribuan dari Penerbit Gramedia masih terlalu sayang untuk dilewatkan, maka Sekali Merengkuh Dayung dari Diah Marsidi pun kembali terbeli. Akhirnya ketidaksadaran saya pun berakhir dengan tamparan keras sore itu, Semua Berawal Dengan Keteladanan di stand itu dijual dengan harga diskon, terpaut 3,7 liter bensin dengan harga yang saya peroleh dari Gramedia Toko Buku. Siaaal!

 

*masih-dengan-penuh-penyesalan-untuk-3,7-liter-bensin-itu*

Elephant in the room!

 

*

Rabu malam saya diakhiri dengan Elephant, film Gus Van Sant yang menurut saya puitis dan astounding. Ya, setidaknya untuk saya yang di lima belas menit pertama harus berjuang melawan kantuk, film ini beralur lambat bahkan cenderung membosankan, tapi toh di credit-title saya tetap memberikan tepuk tangan. Bagi saya film ini puitis karena scene yang diambil kebanyakan merupakan long shot dengan beberapa transisi berupa langit yang dishot dalam diam ala Yasujiro Ozu dan juga follow shots yang bermain dalam kesunyian masing-masing karakter. Timeline adegan yang saling terkait pada simpul yang tidak terduga juga salah satu daya tarik yang menghilangkan rasa kantuk saya, menontonnya seolah kita disuguhi oleh suatu perjalanan dengan sebuah bis tua ke negeri antah-berantah yang disetiap tikungannya adalah sebuah kejutan. Adegan pembuka yang diambil dari bird-view saat sebuah mobil melaju diantara jajaran maple yang merontokkan daunnya di sepanjang jalan adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Astounding sebab di akhir film, kita disuguhkan oleh sebuah tikungan terakhir yang memberikan ruang bagi kita untuk merasa terkejut, merinding, kagum, heran, kecewa atau sekedar komentar ringan, “cuma itu?”. Ada lagi sih

Marathon Nonton…

Weekend kemarin, setelah rampung dengan segala tetek-bengek urusan“rumah-tangga”, rencana saya mau nonton pementasan terakhir Kunjungan Cinta-nya Teater Koma sekaligus foto-foto ambil gambar, tapi berhubung hujan yang ujug-ujug jadi akrab dengan langit Jakarta akhir-akhir ini, terpaksa saya harus membatalkan rencana tersebut. Kecewa memang, tapi mau apalagi, toh saya tidak senekat itu, lagipula minggu kemarin juga sudah nonton tapi belum sempat foto-foto. Mungkin lain kali…

Akhirnya saya berpaling pada setumpuk dvd yang baru dibeli, belum sempat ditonton, saya pikir inilah saat yang tepat untuk menontonnya, sore hari, langit kelabu, hujan yang turun terus menerus dan suhu udara yang turun dibawah rata-rata normal, apa yang bisa dilakukan selain tidur, makan, nonton tv, atau kelonan (berhubung yang ini belum boleh, ya terpaksa ndak dilakukan) :D . Akhirnya dvd tadi yang jadi korban, mumpung ada waktu. Film pertama yang saya tonton adalah Tokyo Monogatari (Tokyo Story) film hitam-putih yang konon disebut-sebut sebagai masterpiece dari Yasujiro Ozu, sang quiet master. Lanjutkan membaca ‘Marathon Nonton…’

Halaman Berikutnya »